Sabtu, 14 Maret 2015

Makalah Gereja Sebagai Institusi Sosial


Gereja Sebagai Institusi Sosial



unduhan.jpg





Kompetensi Dasar:
Menjelaskan peran gereja sebagai institusi sosial dan persekutuan orang percaya di tengah tantangan kehidupan masa kini
Indikator:
1)      Mengidentifikasikan Definisi ’gereja’
2)     Mengidentifikasikan peran gereja sebagai institusi sosial
3)     Mengidentifikasikan peran gereja sebagai persekutuan orang percaya
4)     Mengkritisi peran gereja dalam kehidupan nyata
Referensi Alkitab:
Kitab Efesus, Ibr 10:24-25, I Kor 12, Rm 5
Uraian pelajaran
1. Definisi Gereja
Kata ’gereja’ dalam bahasa Indonesia mengacu kepada bahasa Portugis ’igreja’. Namun, istilah ’gereja’ dalam Alkitab, dalam bahasa aslinya (Yunani) menggunakan dua istilah yaitu ekklesia dan kuriakon.
Ekklesia artinya dipanggil keluar. Orang-orang yang pertama dipanggil keluar adalah murid-murid Yesus yang pertama (Mat 4:18-22). Dari sini kita mendapatkan pemahaman bahwa kata ’gereja’ mengacu kepada pribadi-pribadi, yaitu orang-orang sebagai pribadi ataupun kelompok yang bersekutu bersama-sama. Bahkan dimana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Yesus, di situ Dia ada (Mat 18:20). Istilah lain yang digunakan adalah ’jemaat’. Dari konsep ini gereja juga dipahami berfungsi sebagai organisme dan organisasi.
Ayat-ayat di Alkitab menunjukkan perbedaan antara Gereja lokal  dan Gereja Universal. Semua orang yang percaya di dalam Yesus untuk  keselamatan adalah bagian dari Gereja Universal. Tetapi hanya apabila mereka    bergabung di dalam sebuah tubuh lokal dari orang-orang beriman maka disebut sebagai gereja lokal.
Jemaat lokal yang terdiri dari orang-orang yang telah diselamatkan dan digembalakan oleh seorang Gembala adalah tubuh Tuhan. Juga disebut mempelai wanita dengan Kristus sebagai mempelai pria. Dalam perannya terhadap dunia ia disebut tiang penopang dan dasar kebenaran, yaitu tempat bagi manusia di dunia untuk mendapatkan kebenaran. Sekumpulan orang bisa disebut Jemaat Tuhan atau mempelai Kristus, atau tiang penopang dan dasar kebenaran, harus memenuhi dua syarat utama, yaitu; terdiri dari orang-orang yang telah lahir baru dengan keanggotaan yang jelas, dan digembalakan oleh seorang yang mengasihi Tuhan.
Contoh-contoh dari gereja lokal: Paulus menulis surat kepada Gereja-gereja    lokal (misalnya: Galatia) yang mempunyai pemimpin-pemimpin khusus (Rm 16:1,5).     Yesus juga berbicara pada perkumpulan-perkumpulan lokal, dan menunjukkan     kebutuhan-kebutuhan mereka yang khusus sebagai tubuh ( Why 2,3). Orang-orang beriman lokal ini berkumpul bersama-sama secara teratur (Ibr 10:25) untuk berdoa, mengajar dan bersekutu (Kis 2:42). Baru setelah itu mereka   akan benar-benar mengerti bagaimana untuk menjadi anggota yang benar dari  Gereja Universal yang terdiri dari orang-orang dari berbagai macam suku, bahasa  dan bangsa (Why 5:10).
Berikutnya, kata kuriakon mengacu pada tempat ibadah, gedung gereja tempat beribadah. Di tempat ini jemaat melakukan berbagai bentuk kegiatan dan persekutuan di antara orang percaya.
Sifat-sifat Gereja
·     Gereja adalah Esa
        Sebelum kita membahas topik berikut, diskusikanlah pertayaan berikut dengan teman semejamu. Pertanyaan: Menurut kalian apakah benar bahwa Gereja yang ada sekarang ini adalah satu, padahal realitas yang kita lihat  begitu banyak nama-nama gereja? Berikanlah alasan  Anda.
          Dalam Efesus 4:3-6 dikatakan “ dan berusahalah memelihara kesatuan roh oleh ikatan damai sejahtera : satu tubuh, dan satu roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah, dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua”. Rasul Paulus mengungkapkan hal ini. Ketika ia berbicara tentang “ kesatuan jemaat dan karunia yang berbeda-beda”. Dari apa yang telah disampaikan ini dapatlah dipahami bahwa konsep rasul Paulus tentang orang-orang percaya yang ada di Efesus 1:1 adalah satu
            Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa yang terjadi sekarang ini begitu banyak nama-nama gereja yang bermunculan di dunia ini. Kalau demikian layakkah kita mengatakan bahwa Gereja adalah satu? Atau  dimana sebenarnya letak  kesatuan Gereja yang dimaksud? Letak  kesatuan gereja yang dimaksud adalah:  satu Allah   (Allah yang telah menyatakan dirinya sendiri kepada manusia dalam  kejadian 1:1 dan diyakini sebagai  pencipta langit dan bumi serta segala isinya)., Satu tubuh, sebagai anggota tubuh Kristus, di sinilah letak pengertian dasar Gereja yang   paling mendasar dan mendalam yang tidak dapat dilupakan oleh orang-orang Kristen  sepanjang masa dan di semua tempat, Satu panggilan ,Satu iman, Satu baptisan, Satu sumber kekuatan, Satu pengharapan dan kasih di dalam Kristus.



·      Gereja adalah Kudus

            Istilah “kudus” tentunya bukanlah sesuatu yang asing dalam Alkitab. Bahkan Alkitab berulangkali menyinggung istilah ini. Istilah ini biasanya dipergunakan, ditujukan bagi mereka-mereka yang telah percaya kepada Kristus Yesus,misalnya dapat kita baca dalam Efesus 1:1 “Dari  Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus”.  Juga dapat dibaca dalam Kolose 1:2 “Kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose”, bd juga Filipi 1:1, 1 Korintus 1:1-2 dan lain-lain. Dari beberapa ayat-ayat Perjanjian Baru tersebut, dapat kita ketahui bahwa kekudusan yang ditujukan kepada orang-orang percaya bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan suatu kenyataan yang telah terjadi dalam suatu perubahan yang radikal, yaitu perubahan dari hidup yang lama kepada hidup yang baru, yang dikerjakan oleh Kristus Yesus melalui karya penebusanNya di kayu salib (bd Efesus 4:22-24, Roma 8:2).
           Kata  “kudus” dalam bahasa aslinya (Ibrani: Qahal) berarti diasingkan, disendirikan. Dari pengertian ini bukan berarti Gereja harus diasingkan dari dunia ini ketempat dimana orang-orang yang tidak percaya tidak ada. Bukan bukan itu maksudnya. Namun diasingkan disini berarti Gereja, orang percaya harus diasingkan dari pola hidup, gaya hidup orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Gaya hidup orang percaya adalah gaya hidup yang sudah meninggalkan kehidupan yang lama, masuk dalam gaya hidup yang baru yakni hidup yang dipimpin oleh Tuhan. Oleh karena itu Alkitab senantiasa menekankan bahwa orang Kristen senantiasa dipanggil untuk menguduskan diri, untuk mengasingkan diri bagi Tuhan (bd  Ibrani 12:14; 1 Tesalonika 5:15.)

Sebagai tambahan, berikut dapat kita lihat sebagai dasar kekudusan gereja seperti tertera di bawah ini:

1.      Dasar pertama 1 Petrus 2:9-10: “ tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitahukan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umatNya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi sekarang telah beroleh belas kasihan.

2.      Dasar kedua terdapat dalam  Pengakuan Iman Rasuli, seperti “Aku percaya kepada Roh Kudus, Gereja yang kudus”. Allah menguduskan gerejaNya melalui percikan darah dan kematian Yesus Kristus pada kayu salib di bukit Golgota. Dengan pengorbanan Yesus Kristus inilah Dia menyempurnakan semua yang dilakukan bangsa-bangsa untuk pengampunan dan penghapusan dosa manusia. 
·         Gereja adalah Am

            Dalam Pengakuan Iman Rasuli disebutkan “Aku percaya kepada Roh Kudus; gereja yang kudus dan am”. Kata yang diterjemahkan untuk “am” adalah “katholikos”  yang berarti umum, tidak terbatas, memiliki peranan yang luas, dan meliputi segala sesuatu.  Jika Gereja di sebut “am” hal itu berarti, bahwa Gereja menerobos segala batasan dan memiliki perspektif umum. Gereja yang umum artinya gereja yang terbuka bagi setiap orang atau golongan. Gereja terbuka bagi semua golongan,  umur, jenis kelamin, suku, bahasa dan bangsa, warna kulit, status sosial, tingkat pendidikan,dll. Gereja harus membumi dan mendunia untuk membawa kabar sukacita bagi semua bangsa (matius 28).

·         Gereja yang rasuli

            Sebutan  “rasul” dan “rasuli” mengandung pengertian yang berbeda ada yang mengatakan “rasul” menunjuk kepada ke-12 rasul sebagai murid-murid Tuhan Yesus. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa istilah ”rasuli” menunjuk kepada “Apostolos” (bahasa Yunani) yang berarti yang diutus, jadi gereja yang rasuli berarti gereja yang diutus untuk melaksanakan tugas dan pangilannya di dunia untuk membawa kabar baik.

2. Gereja sebagai institusi sosial 
Institusi sosial adalah perkumpulan yang dilembagakan oleh undang-undang, adat atau kebiasaan atau dapat juga desebut sebagai persekutua, perkumpulan, organisasi sosial yang berkenaan dengan mayarakat. Dalam hal ini gereja disebut sebagai lembaga atau institusi sosial. Namun sebagai institusi sosial, gereja berbeda dengan lembaga-lembaga lainnya, karena Gereja terbentuk oleh Allah yang memanggil, bukan sekedar adanya orang yang berkumpul karena adanya kepentingan bersama. Gereja mempunyai hakikat yang lain. Gereja berada di dalam dunia tetapi bukan berasal dari dunia (Yoh 17:11). John Stott mengatakan bahwa gereja mempunyai identitas ganda. Di satu pihak orang percaya dipanggil untuk keluar untuk menjadi milik Allah dan di lain pihak diutus kembali ke dalam dunia untuk menjadi saksi-Nya dan untuk melayani.
Gereja berada di dalam dunia karena Gereja dipanggil menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Sebagai garam dan terang (Mat 5) mempunyai berbagai peranan baik secara individual maupun secara organisasi, dalam segala bidang untuk melayani masyarakat (pendidikan, kesehatan, politik, sosial, seni, dan lain-lain. Namun sayangnya gereja masa kini banyak yang sibuk berkutat hanya dalam gereja sendiri.
Pemuda Gereja terkesan alergi dan anti terhadap ormas, dikarenakan terlalu sempit memandang dan beranggapan : ormas itu negatif (berbau politik). Idealnya para Pemuda Gereja-lah diharapkan terjun aktif di dunia ke-ormasan untuk dapat menjadi garam dan terang di masyarakat, bangsa dan negara. Kodrat Pemuda adalah melakukan peran dan tanggung jawab dalam komitmennya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta sikap, komitmen, dan keberpihakan kepada masyarakat. Untuk itulah gelar yang diberikan dan yang disandang pemuda sebagai agen perubahan (Agent of Change) dan agen kontrol sosial (Agent of Social Control). Untuk menciptakan model pemuda yang dimaksud diatas maka ormas adalah sarana dan arena belajar, bereksperimen dan berlatih menjadi Agent of Change dan Agent of Social Control. Sehingga dengan demikian, sangat perlu  bagi para siswa yang adalah pemuda (gereja) untuk aktif dan mau terlibat untuk dibina di Organisasi-organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang ada termasuk organisasi-organisasi kepemudaan, organisasiorganisasi profesi, organisasi-organisasi fungsional merupakan wadah yang tepat untuk membangun kepeloporan dan kepemimpinan seperti yang diharapkan itu.
Sepanjang sejarah kita telah menyaksikan keteladanan anak-anak Tuhan yang terlibat aktif menjadi garam dan terang di tengah masyarakat seperti:
Daniel – terlibat dalam pemerintahan Babel (pemerintahan)
Daud – sebagai raja (pemimpin negara)
Yusuf – sebagai orang kepercayaan Firaun (pemerintahan)
Mother Theresa – bidang sosial
3. Peran Gereja sebagai Persekutuan Orang Percaya
Sebelum gereja bisa menjalankan peran sosial di tengah masyarakat, maka gereja perlu menjadi gereja yang bertumbuh terlebih dahulu. Kitab Efesus memberikan gambaran tentang gereja sebagai wadah untuk:
- Mengumpulkan dan menumbuhkan tubuh Kristus……. Ef 1:22-23
- Membangun sebuah tempat ibadah/bangunan …………. Ef 2:21-22
- Membangun sebuah keluarga ……………………………….. Ef 3:15
- Mendewasakan seseorang ……………………………………. Ef 2:15 4:13
- Mempersiapkan seorang mempelai wanit………………. Ef 5:23-33
- Melengkapi/melatih seorang serdadu …………………….. Ef 6:10-18
Jelaslah kitab Efesus menggambarkan mengenai komunitas baru yang dibentuk oleh Kristus sendiri melalui karya di kayu salib. Gambaran gereja sebagai tubuh Kristus mengisyaratkan keberbagaian dalam persekutuan orang percaya dimana kita belajar saling menerima dan saling mendukung, saling membangun satu terhadap yang lain melalui berbagai karunia yang Allah berikan kepada masing-masing orang (1Kor 12, Rm 5). Koordinasi yang baik dan tidak saling menonjolkan diri menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus tunduk kepada Kristus yang adalah kepala tubuh.
Dalam gereja pulalah Allah memberikan pemimpin-pemimpin rohani (Ef 4:13-15) sehingga umat boleh terus bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, dan semakin dewasa tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan sehingga semakin sempurna dan terus membangun di dalam Dia, bagi kemuliaan-Nya.
Karenanya dinasehatkan agar orang percaya tidak meninggalkan persekutuan Ibr 10:24-25 tetapi saling mengingatkan, saling menguatkan dan saling melayani sesama anggota  Dengan cara demikianlah gereja sebagai individu maupun jemaat boleh terus membangun dirinya dan menjadi berkat bagi sekelilingnya.
4. Mengkritisi peran gereja dalam kehidupan nyata
Wawancara ke gereja untuk mengetahui sejauh mana gereja sebagai suatu organisasi atau lembaga melakukan perannya di tengah masyarakat.
Bikin proyek pribadi, bagaimana sebagai gereja secara individu berperan dalam membangun diri dan orang lain baik di dalam maupun di luar gereja. penilaian kerja sama dengan BK
  5.  Gereja sebagai persekutuan

              Gereja adalah sesuatu yang kongkret dan kelihatan. Ditinjau dari sudut sosiologi ia tidak berbeda dengan lembaga-lembaga lain yang terdapat di dunia ini. Gereja mempunyai anggota-anggota, peraturan-peraturan, pengurus dan lain sebagainya. Akan tetapi, ia tidak sama dengan lembaga-lembaga lain tersebut. Gereja ada di dunia tetapi tidak berasal dari dunia, Gereja ada bukan karena kepentingan orang-orang tetapi karena Allah, Gereja ada untuk melayani Allah dan manusia.  
        Ciri gereja yang benar adalah suatu persekutuan yang di tempatkan Allah di dunia untuk melayani Allah dan manusia. Dalam kerangka persekutuan, Gereja melaksanakan tri tugas gereja yang dipercayakan. Yaitu :
     - Melaksanakan persekutuan (Koinonia), seperti perayaan-peraayan ibadah,
        penggembalaan, mendengar firmanTuhan dan menerima sakramen 

     - Melayani (Diakonia) satu sama lain. Yang dimaksud dengan melayani adalah 
        mewujud-nyatakan kasih Tuhan terhadap sesama.
    - Memberitakan injil/bersaksi (Marturia) Gereja bersaksi melalui seluruh hidupnya baik  
       kepada    Sesama anggota gereja maupun kepada orang-orang di luar gereja


Tidak ada komentar:

Posting Komentar