Rabu, 11 Februari 2015

Menyimak Matius 5:13-16

MENYIMAK Mat 5:13-16

Murid-murid disebut “Kamulah garam dunia...!” (ay. 13a). Bukannya diserukan agar mereka “menjadi” garam. Yang dimaksud ialah agar mereka tetap sebagai garam. Perkaranya, bagaimana bila dayanya hilang dan jadi hambar (ay. 13b)? Ini terjadi bila murid kehilangan identitasnya. Garam yang hambar tak berguna, bakal dibuang, diinjak-injak (ay. 13c). Murid yang tak bisa ikut membuat dunia ini makin awet dan enak didiami dengan sendirinya tidak menyumbang banyak. Sayang!


Para murid juga dibaratkan sebagai “terang dunia” (ay. 14a). Menyusul dua contoh. Pertama, kota di atas gunung tentu saja terlihat dari mana-mana (ay. 14b). Murid-murid tak bisa menutup-nutupi diri, tak bisa bersembunyi. Cara hidup mereka pasti terlihat, tak peduli apakah orang akan mendatanginya sebagai tempat berlindung atau malah sebagai sasaran kedengkian. Bagaimanapun juga, yang melihatnya tidak bakal hanya mendiamkannya. Contoh selanjutnya makin jelas. Lampu menerangi seluruh ruang karena memang dipasang di atas, tidak ditutup dengan tempayan (ay. 15). Para murid memang ada di tempat yang memungkinkan mereka menerangi seluruh ruang. Hidup sebagai murid bukan urusan kesempurnaan pribadi, melainkan hidup menerangi lingkungan. Lebih tajam lagi ay. 16. Mereka hendaknya bersinar bagi semua orang sehingga perbuatan baik mereka dilihat dan orang-orang akan “memuliakan Bapamu yang ada di surga”.
Biarlah kita semua yang menyembah dan memuliakan nama-Nya selalu menjadi garam bagi orang sesama dan menjadi terang yang berarti sebagai pusat atau panutan bagi orang lain yang menunjukan bahwa kita menjunjukan sikap apa yang dilakukan oleh Kristus Tuhan itu sendiri .

Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar